Kamis, 11 Juli 2013

pak tua

pak tua yang biasanya berbaring di undakan depan deretan toko, tidak kutemui hari ini. kemana kira-kira pak tua itu? apa udara dingin karena hujan sehari semalam jadi sebab tak kulihat dia? sebungkus roti yang kusiapkan dari rumah, yang tadinya berniat kuberikan padanya, masih kupegang.

Kamis, 20 Juni 2013

waktu & rumput


waktu bukan rumput yang bisa diajak berbincang. waktu akan menyeret ragamu, tidak kenanganmu. aku katakan ya, rumput adalah pendengar setia yang akan selalu menari bersama angin  walau kamu ceritakan kesedihan sekali pun.

lucu


aku benci kebiasaannya tertawa sebelum mulai menceritakan hal yang menurutnya lucu. dia tertawa terkekeh, lalu mulai bercerita. ceritanya tidak lucu. sampai pada akhir cerita, aku tidak juga menemukan satu titik kelucuan. tapi, dia tetap tertawa. demi penghargaan atas jerih payah dan waktu dia bercerita, aku ikut tertawa kecil dipaksakan. tanpa menunggu lagi, kualihkan pembicaraan.

nightingale untukku


aku duduk dan bersandar di sofa, memejamkan kedua mata, mendengarkanmu membacakan sebuah nightingale. teh di atas meja yang tadi kau tuang ke dalam dua mug bergambar menara eiffel, yang masing-masing kita akui sebagai mug kita walau pastinya aku dan kamu tak lagi yakin mana yang punyamu dan mana yang milikku, masih mengepulkan asap karena kau seduh seluruhnya dengan air panas.

tak berarti hujan


aku bilang padamu, kamu datang seperti mendung, tak terduga, tak dikira. menutupi cerahnya hari, cerahnya hati tanpa permisi. kamu hanya berdiam tanpa kutahu apa yang ada di benakmu, seperti mendung yang masih belum memutuskan untuk mengirim rintiknya ke bumi, ke hatiku. kemudian, kamu berbalik pergi. benar kata orang, mendung tak berarti hujan.

Rabu, 02 Mei 2012

nenek penjual kerupuk

hidup itu ternyata sederhana.
belajar dari hal-hal sederhanalah yang membuat hidup itu kaya.

dari nenek penjual kerupuk, saya belajar tentang hidup dan nilai dalam perjuangan hidup.
saya ceritakan ya.

beberapa waktu lalu, saya dan rekan kerja keluar kantor untuk makan siang. di depan tempat kami makan siang, saya melihat seorang nenek tua duduk seorang diri. si nenek sedang menikmati makan siangnya berupa nasi bungkus. timbullah rasa iba saya. nenek itu sudah sangat tua. makan sendirian di tempat yang tidak layak seperti itu tentulah hal yang membawa pemandangan miris buat saya. 

selesainya saya dan rekan saya makan, kami meninggalkan tempat makan. sekali lagi terlihat si nenek masih di luar tempat makan itu. ternyata si nenek seorang penjual kerupuk. dilihatnya saya di pintu keluar tempat makan, buru-buru dia menawarkan dagangannya. bertambah mirislah pemandangan itu buat saya. orang setua itu masih bekerja keras menjajakan dagangan. kenapa tidak diam di rumah dan menikmati masa tuanya? biar anak cucunya yang mencarikan nafkah buat dia. tapi kenyataan di depan saya berkata sebaliknya.

saya suka kerupuk. kebetulan kerupuk yang ditawarkan si nenek adalah jenis kerupuk kesukaan saya. belilah saya kerupuk dagangan si nenek dalam jumlah banyak. si nenek memberikan harga untuk kerupuk sebanyak itu hanya dengan harga tujuh ribu rupiah. 

karena rasa iba tadi, saya berikan sepuluh ribu rupiah kepada si nenek dengan maksud agar si nenek tidak usah mengembalikan sisa uang saya. tapi yang membuat saya kagum pada si nenek, begitu saya hendak pergi, si nenek memanggil saya dan memberikan lagi dua bungkus kerupuk yang dihargainya seribu rupiah per bungkusnya. saya mengatakan pada si nenek agar tidak usah memberikan saya kerupuk lagi. biarlah kembalian uang saya buat dia. si nenek berkata "tidak bisa. harus pas." 

menyadari kerupuk yang diberinya belum mencukupi uang kembalian saya, si nenek memberikan lagi sebungkus kerupuk yang sama. saya awalnya menolak, tapi karena si nenek ngotot tetap tidak mau menerima uang kembalian saya, akhirnya saya terima saja. jadilah uang saya pas dengan apa yang saya beli. si nenek terlihat tersenyum puas.

sudah sangat tua, masih bekerja keras, dan tidak mau hanya menerima rasa iba dari orang lain adalah rasa kagum yang seketika timbul buat si nenek siang itu.

sederhana, kan?

Selasa, 27 Desember 2011

Tentang Yang Tiga

Tiga…
            Tiga sudah seperti angka keramat bagi kita.
            Tiga sudah seperti angka keramat bagi kami.
            Tiga sudah seperti angka keramat bagi aku, dan kamu, dan kamu.
           
Apa yang begitu istimewa tentang tiga sih?
Cuma kami yang tahu. Cuma kami yang mengerti. Cuma kami yang paham. Cuma kami…
           
Lalu, dimana istimewanya?
Kalau diceritakan pasti akan biasa-biasa saja buat orang lain. Tapi tidak untuk kita, kami, aku, dan kamu, dan kamu…

            Biasa-biasa yang bagaimana?
            Yang orang lain sepertinya tahu, yang orang lain sepertinya mengerti, yang orang lain sepertinya paham. Tapi ternyata tidak…

            Mengapa bisa begitu?
            Entahlah…

            Kenapa memilih tiga sih? Kenapa tidak genap empat? Tiga bisa jadi angka sial lho. Kepercayaan tradisional kita saja melarang kalau kita berfoto bertiga. Harus ada yang menggenapkan. Yang tengah bisa cepat mati. Yang tengah bisa pergi jauh. Yang tengah bisa kenapa-kenapa.
            Aaaaaah, itu kan takdir namanya kalau memang terjadi. Atau malahan bisa saja hanya kebetulan yang tidak terduga.

            Lalu, apa yang terjadi sih sebenarnya?
            Tiga terbagi tiga…

            Kemana?
            Menelusuri jalan yang memang seharusnya tidak dilewati bertiga, karena dari awal seharusnya memang tiga tidak pernah bisa jadi satu. Tiga ya tiga…

            Cerita yang tertulis?
            Tentang tiga yang mencoba satu. Tentang tiga yang mencoba membawa empat dan lima jadi satu.

            Enam?
            Tidak pernah ada enam sewaktu tiga masih bersama.

            Apa cerita si satu?
            Keceriaan… Pengharapan… Kebohongan putih… Kenaifan… Kecerobohan… dan melupakan…

            Apa cerita si dua?
            Keceriaan… Pengharapan… Kebodohan yang berulang… Pengingkaran hati… Ketakutan…  dan melupakan…

            Apa cerita si tiga?
            Keceriaan… Pengharapan… Kehampaan… Kemunafikan… Kesedihan… dan tersakiti…

            Empat dan Lima?
            Hanya tambahan… Tambahan yang sedikit banyak membuat tiga terbagi tiga.

            Enam?
            Tidak pernah ada enam sewaktu tiga masih bersama.

            Ada ceria dan pengharapan. Samakah?
            Sama… Keceriaan karena bertiga. Pengharapan yang dibangun bertiga  yang berpondasikan keceriaan belaka. Mana ada yang kokoh kalau pondasinya hanya seonggok ceria. Pengharapan bodoh akan tiga menjadi satu. Konyol…

            Lalu, melupakan siapa?
            Semuanya. Semua yang tiga.

Karena?
Entahlah… Tanyakan pada yang lebih tahu…

Begitu saja?
Ya. Begitu saja. Tapi tetap dengan proses dong.

Proses yang bagaimana?
Yang menyakitkan secara tidak langsung. Yang tidak berurai air mata tapi sebenarnya sedih. Yang tidak akan terucapkan oleh bibir yang memendam semuanya hanya sampai di tenggorokan. Yang tertutupi oleh senyum ceria yang dibuat-buat tapi sebenarnya penuh penyesalan. Yang terasa begitu cepat tapi sebenarnya sangat lama. Yang masih menyisakan banyak rasa dan pertanyaan. Yang tiga masih ingin tetap tiga. Yang terjadi begitu saja…

Kenapa harus ada yang tersakiti?
Entahlah…

Maksudnya?
Mungkin memang masih terlalu sakit untuk diungkapkan langsung.

Tersakiti karena apa? Karena siapa?
Bisa jadi karena keceriaan yang hilang. Bisa jadi karena pengharapan yang ternyata semu dan hanya omong kosong belaka.

Wah, bisa jadi kemarahan ya?
Tentu saja. Kecewa dan marah kan masih saudara. Aku sering lihat mereka bergandengan tangan.

Seseru apa sih masa bertiga?
Hmmm… seseru apa ya… seru sekali.

Masa cuma segitu?
Iya. Cuma segitu bagi semua orang, tapi segalanya bagi kita, kami, aku, dan kamu, dan kamu.

Bagaimana awalnya tiga memutuskan untuk terbagi tiga?
Tidak pernah ada keputusan karena terjadi begitu saja. Jalan yang membentang tiga jadi penyebab utama. Di tiap-tiap ujung jalan ada empat dan lima yang menunggu.

            Enam?
            Tidak pernah ada enam sewaktu tiga masih bersama.

            Setelah tiga terbagi tiga?
            Tidak ada juga.

Kenapa bisa begitu?
            Hanya tiga yang tahu…

            Sekarang dimana tiga yang terbagi tiga?
            Kulihat masih menyusuri jalan masing-masing. Tapi sesekali masih menoleh ke belakang.

            Mungkin ingin kembali?
            Terlambat…

            Apa yang kira-kira berkecamuk di dalam pikiran masing-masing?
            Entahlah… Aku bukan pembaca pikiran.

            Memikirkan tentang yang sudah lewat?
            Akan Lebih bagus begitu. Biar masing-masing punya satu cerita tentang masa-masa indah yang akan kekal di hati. Coba saja untuk melupakan, paling juga hanya sesaat. Aku berani bertaruh sesaat setelah mereka merasa sudah melupakan, mereka akan kembali teringat bahkan dua kali lebih banyak.

            Mungkinkah mereka kembali mencoba jadi satu?
            Mungkin saja, walau tidak mungkin lagi. Sudah terlambat.

            Tidak ada yang terlambat untuk mencoba kan?
            Tidak ada. Tapi tidak untuk mereka. Sudah terjadi. Jalan kembali sudah tertutup oleh kemarahan hati dan penyangkalan keadaan.

            Ada penyebab lain?
            Selalu ada.

            Empat dan lima?
            Mungkin…

            Enam?
            Tidak pernah ada enam sewaktu tiga masih bersama, dan tidak ada enam juga setelah semuanya.

            Ego?
            Itu juga…

            Rasa malu?
            Sudah pasti…

            Kau tahu banyak ya?
            Iya.

            Siapa yang bercerita padamu?
            Waktu.

            Bagaimana bisa?
            Aku ikut di dalam waktu yang bergulir.

            Memangnya siapa kamu?
            Tiga…

                                                                                                                                                        11.06.07



*pernah dimuat di  Kumpulan Cerpen Writers4Indonesia: Be Strong Indonesia, #delapan