Minggu, 27 Maret 2011

Jangan Sakiti Perempuan


STOP KEKERASAN PADA PEREMPUAN !!! “Aku adalah tiap rintik hujan yang membasahi bumi. kecil, sedikit, tapi berarti”

Aku mendapat bunga hari ini meski hari ini bukan hari istimewa dan bukan hari ulangtahunku. Semalam untuk pertama kalinya kami bertengkar dan ia melontarkan kata-kata menyakitkan. Aku tahu ia menyesali perbuatannya karena hari ini ia mengirim aku bunga.

Aku mendapat bunga lagi  hari ini. Ini bukan ulangtahun perkawinan kami atau hari istimewa kami. Semalam ia menghempaskan aku ke dinding dan mulai mencekikku Aku bangun dengan memar dan rasa sakit sekujur tubuhku. Aku tahu ia menyesali (perbuatannya) karena ia mengirim bunga padaku hari ini.

Aku kembali  mendapat bunga hari ini, padahal hari ini bukanlah hari Ibu atau hari istimewa lain. Semalam ia memukul aku lagi, lebih keras dibanding waktu-waktu yang lalu. Aku takut padanya tetapi aku takut meningggalkannya. Aku tidak punya uang. Lalu bagaimana aku bisa menghidupi anak-anakku? Namun, aku tahu ia menyesali (perbuatannya) semalam, karena hari ini ia kembali mengirimi aku bunga.

Ada bunga untukku hari ini. Hari ini adalah hari istimewa : inilah hari pemakamanku. Ia menganiayaku sampai mati tadi malam. Kalau saja aku punya cukup keberanian dan kekuatan untuk meninggalkannya, aku tidak akan mendapat bunga lagi hari ini….

Ps : Ini tolong di forward ke sahabat2 kita yg wanita atau pria dimanapun. Kadang wanita terlalu lemah dan menerima saja untuk disakiti oleh pria yang dicintainya. Dan untuk para pria tolong untuk lebih menghargai wanita sebagai sosok yang nyata sangat penting untuk di sayangi.


kamu

Hari sudah beranjak menuju peraduan.
Tetap kunikmati dengan lahap semburat cahaya yang masih tersisa.
Ingatan tentangmu kembali lagi berebut melesak ke ruang padat di sudut benakku.
Aku tak ingin kenangan itu ikut berlalu bersama hari, menuju tempat yang aku tak tahu dimana.
Aku ingin ada disini bersama bayangmu yang masih tertinggal seluruhnya, memeluk batinku yang telah banyak terluka.
Kau hadir hari itu dengan sinar lembut yang menghangatkan relung hati yang sudah mulai berkabut.
Kau biarkan aku menyesap aroma yang menenangkan jiwaku yang mulai rapuh, hingga aku merasa tenang bersandar padamu.
Kau berikan aku sejuta pelangi dalam warna yang silaukan mata sehingga tak sanggup kubuka keduanya, hanya dengan kecupan penuh rasa.
Kusesali semua yang tak abadi, karena rasa itu juga mulai mencair dari hatimu.
Kusesali semua yang terasa tak adil, karena aku masih setia mengharap pandangmu.
Kusesali semua yang harus berlalu, karena kau ikut mengalir bersama waktu kehidupan.
Kusesali semua yang telah ada dan nyata padamu juga padaku.
Ada dia dan dia merangkul erat kita berdua, dan tak mungkin melepaskan.
Tak berdasar...

setiap kali kecewa

"Setiap kali kecewa, dia memotong rambutnya"
 
"Ya, minggu lalu rambutnya masih sebatas pinggang, sekarang sudah sangat pendek"
 
"Dia dikecewakan berulang kali akhir-akhir ini"
 
"Tapi sejak kemarin rambutnya tidak lagi bertambah pendek. Dia sudah tidak kecewa lagi?"
 
"Tidak. Dia masih saja dikecewakan. Hanya saja sekarang dia memotong jarinya"

gravitasi


Cicak merayap angkuh di dinding kamar ini. Jejeran semut merayap terburu-buru di sisi lain dinding kamar ini. Di luar jendela kulihat burung-burung berterbangan dengan riang ke atas ke bawah seakan tanpa beban.
Mereka tidak terperangkap kekangan gravitasi. Enak sekali mereka!
Aku juga bisa menentang gravitasi, karena sekarang aku membumbung tinggi ke atas, menempel pada dinding yang tinggi, melihat ke bawah pada sosok yang mirip diriku memegang botol dengan tulisan salah satu merek obat serangga.

sepi

Sepi...
Tak beralaskan apa-apa.
Tak bertepikan apa-apa.
Tak bernaungkan apa-apa.
Sepi...
Mengisi kehampaan.
Mengisi keheningan.
Mengisi ketiadaan.
Sepi...
Tanpa penjabaran.
Tanpa penyelesaian.
Tanpa kepastian.
Sepi...
Karena merindumu.
Karena hilangmu.
Karena kamu.

kuhapus kau dari hatiku

Kuhapus kau dari hatiku hari ini. 
Aku sudah berlutut di dasar hatiku. 
Aku sudah tak bisa berada lebih dalam lagi di keterpurukanku. 
Hujan selalu membawa kenangan tentangmu. 
Bahkan secangkir kopi di depanku turut membawa aroma yang biasa kuresapi saat denganmu. 
Bahkan pohon tempat kita biasa mengagumi malam berbintang pun turut mendesirkan suaramu dalam setiap helai daunnya yang jatuh di pundak ku. 
Bahkan setiap sudut kota turut merefleksikan lekuk wajahmu pada setiap wajah asing yang kutemui. 
Bahkan kenyataan turut memberitakan ketiadaanmu disisiku sejak hari itu.

Kuhapus kau dari hatiku hari ini. 
Aku sudah berlutut di dasar hatiku. 
Aku sudah tak bisa berada lebih dalam lagi di keterpurukanku. 
Biarkan aku berteman dengan waktu dan hampa. 
Mereka yang ternyata selalu ada buatku saat kau tidak. 
Biarkan aku bergantung pada semua kenangan tentang rasaku padamu. 
Mereka yang mendorongku untuk tetap merasa ada. 
Biarkan aku terus mengambang di setiap tanya yang tidak kau jawab. 
Mereka yang selalu membawaku ke setiap kekosongan yang terisi oleh diam mu. 
Biarkan aku hanyut di aliran sikapmu yang membingungkan. 
Mereka yang meyakinkan ku, kau punya tawa dan air mata karena ku.

Kuhapus kau dari hatiku hari ini, tapi ternyata tidak kemarin dan tidak juga besok. 
Kau akan selalu ada di setiap lembar hidupku walau tak nyata lagi.